Jeruk

Jeruk

Ada kisah lama yang saya baca mengenai pemecahan konflik. Mengenai dua saudari yang bertengkar karena sebuah jeruk. Hanya ada satu buah jeruk di dapur dan keduanya menginginkanya.

Mereka bertengkar mengenai siapa yang paling layak mendapatkannya. Pada akhirnya mereka berkompromi untuk memotong jeruk ini menjadi dua bagian.

Saudari pertama menguliti jeruk itu, membuang kulitnya, lalu memakan jeruknya.

Saudari kedua menguliti jeruknya dan membuang daging jeruknya. Ia membutuhkan kulit jeruknya untuk membuat kue.

Seandainya saja mereka bicara satu sama lain, maka akhirnya yang satu bisa makan seluruh daging jeruknya dan yang kedua memiliki dua kali jumlah kulit jeruk untuk kuenya.

Bukankah demikian pula halnya dalam pertengkaran kita? Jika saja kita bisa menyadari apa yang kita berdua inginkan, maka kita berdua bisa sama sama puas.

Begitu sering konflik yang kita alami di dunia ini terjadi karena kita tidak melihat lebih mendalam pada pertanyaan, "mengapa kita bertengkar?" Apakah kita benar benar percaya bahwa kita benar? Bisakah kita bener bener tahu bahwa gagasan dan pandangan kita adalah kebenaran mutlak?