KELADANG
Saat
itu aku akan pergi ke ladang. Berjalan kaki menempuh pegunungan. Diantara
pinggir jalan pepohonan berdiri. Daun – daun seolah menyapaku riang bersama
senyuman sinar matahari. Ada sungai disebelah ujung jalan. Airnya bersih dan
jernih berwarna biru. Air itu bersumber dari mata air pegunungan. Aku terus
berjalan ke ladang, dan kuputuskan nanti pulang dari ladang aku akan mandi
disana.
Bekerja
di ladang memang lelah, tetapi jika dibalut pemandangan yang indah pasti lelahnya
akan hilang. Hari ini adalah hari penanaman padi, dan membuatku benar – benar bergembira.
Setelah lama bekerja jam menunjukkan pukul dua belas. Waktunya untuk istirahat
telah tiba. Kue yang dibawa ibu memang lezat dan nikmat. Sambil makan kue, kami
membuka rantangan yang berisi nasi dan ikan. Rasa laparku semakin membayang – bayang.
Aku segera mengambil air putih menyiapakan makanan yang dibawa ibu. Sehabis
makan aku beristirahat sebentar kira – kira setengah jam, untuk menambah
tenagaku.
Tiada
beban pikiran yang kurasakan, meskipun otot terasa lelah. Tidur di bawah pohon
ditemani rerumputan di sebelah kiri – kanan nyaman sekali rasanya. Aku agak terlambat
bangun. Kemudian langsung bergegas memulai pekerjaan kembali lagi.
“Padi
semakin tua semakin merunduk” itu apa artinya bu? Tanyaku pada ibu di sela –
sela bekerja. Oh itu artinya, “semakin banyak yang kita ketahui maka, kita
harus semakin rendah hati”. Jawab ibu dengan lugas. Nasihat itu melekat di ubun
– ubunku. Ternyata hidup ini bukan untuk disombongkan tetapi harus disyukuri.
Sebarapa banyak pengetahuan yang kita punya itu harus kita gunakan untuk menjadi
penolong bagi orang lain. Meskipun terkadang banyak orang pintar, tetapi mereka
tidak mengerti makna hidup sebenarnya.