Cerpen 'Cerita Pendek"


KELADANG
Saat itu aku akan pergi ke ladang. Berjalan kaki menempuh pegunungan. Diantara pinggir jalan pepohonan berdiri. Daun – daun seolah menyapaku riang bersama senyuman sinar matahari. Ada sungai disebelah ujung jalan. Airnya bersih dan jernih berwarna biru. Air itu bersumber dari mata air pegunungan. Aku terus berjalan ke ladang, dan kuputuskan nanti pulang dari ladang aku akan mandi disana.
Bekerja di ladang memang lelah, tetapi jika dibalut pemandangan yang indah pasti lelahnya akan hilang. Hari ini adalah hari penanaman padi, dan membuatku benar – benar bergembira. Setelah lama bekerja jam menunjukkan pukul dua belas. Waktunya untuk istirahat telah tiba. Kue yang dibawa ibu memang lezat dan nikmat. Sambil makan kue, kami membuka rantangan yang berisi nasi dan ikan. Rasa laparku semakin membayang – bayang. Aku segera mengambil air putih menyiapakan makanan yang dibawa ibu. Sehabis makan aku beristirahat sebentar kira – kira setengah jam, untuk menambah tenagaku.
Tiada beban pikiran yang kurasakan, meskipun otot terasa lelah. Tidur di bawah pohon ditemani rerumputan di sebelah kiri – kanan nyaman sekali rasanya. Aku agak terlambat bangun. Kemudian langsung bergegas memulai pekerjaan kembali lagi.
“Padi semakin tua semakin merunduk” itu apa artinya bu? Tanyaku pada ibu di sela – sela bekerja. Oh itu artinya, “semakin banyak yang kita ketahui maka, kita harus semakin rendah hati”. Jawab ibu dengan lugas. Nasihat itu melekat di ubun – ubunku. Ternyata hidup ini bukan untuk disombongkan tetapi harus disyukuri. Sebarapa banyak pengetahuan yang kita punya itu harus kita gunakan untuk menjadi penolong bagi orang lain. Meskipun terkadang banyak orang pintar, tetapi mereka tidak mengerti makna hidup sebenarnya.